Sejarah Pondok Pesantren Al-MUBAROK LANBULAN
Lanbulan dahulu kala adalah kawasan pematangan sawah dan terletak dibawah bukit kecil dekat dengan sungai yang berlokasi disebelah selatan kampung Tenggetteng Kecamatan Tambelangan Sampang. Dan dikampung inilah KH. Muhammad Fathullah tinggal bersama istri dan mertuanya setelah beliau dijodohkan oleh ayahandanya KH. Fathullah dengan Ny. Dewi Fatimah (Hj. Zalnab) yang masih saudara sepupunya sendiri yaitu putri paman beliau yang bernama KH. Khairuddin yang berasal dari Desa Taman yang mempersunting Ny. Bhuna (Hi Aminah)
Dari kampung inilah akan dimulai sejarah berdirinyçı Pondok Pesantren al-Mubarok Lanbulan. Dikala beliau tinggal di Tenggenteng beliau sudah mempunyai beberapa santri diantaranya bernama Sadiman (H. Thoyib) Jungkarang Jrengik, dia merupakan santri pertama bellau karena pada awal mondok di Duwe’ Pote yang diasuh oleh KH. Damanhuri bin Jazuli, Sadiman bertemu dan berteman dengan KH. Muhammad Fathullah. Selang beberapa waktu, Sadiman berguru kepada beliau walaupun sama-sama nyantri di Pondok Duwe’ Pote hingga akhirnya Sadiman Sangat senang dan setia kepada beliau karena saat beliau disuruh pulang ke Glagas oleh guru beliau untuk berkeluarga, Sadiman mengikuti beliau ke Glagas dan ke Tenggenteng hingga sampai ke Lanbulan.
Di saat beliau pergi ke sungai melalui jalan tersebut beliau melihat persawahan yang berada disebelah timur jalan kemudian beliau melihat sebidang sawah yang beliau sukai dan sangat cocok untuk dijadikan tempat tinggal dan pekarangan. Sejak itulah beliau mempunyai keinginan untuk pindah dan bertempat tinggal di pemetangan sawah tersebut yang sangat dekat dengan sungai, dan sudah barang tentu akan memudahkan beliau untuk mendapatkan air dan memenuhi kebutuhan. Dan juga yang paling memotivasi beliau untuk menempati persawahan itu adalah beliau bermimpi: “Pada suatu malam beliau melihat pematangan sawah itu dijatuhi rembulan tanggal satu (bulan sabit), kemudian bulan itu bertambah besar dan membesar hingga manjadi bulan purnama yang sempurna yaitu tanggal 15”. Setelah beliau bermimpi maka keinginan untuk menempati persawahan itu semakin besar karena menurut beliau mimpi itu merupakan petunjuk dari yang maha kuasa bahwa sebidang tanah tersebut mempunyai kelebihan tersendiri yang nantinya akan mempunyai prospek masa depan yang cerah dan akan menjadi sumber tempat bersejarah serta akan dikenang sepanjang masa. Kelak, itu semua akan menjadi kenyataan sebab dari sebidang sawah itu akan menjadi pesantren yang sangat besar yang menyinari dan menentramkan kawasan di sekitarnya. Hal itu cocok dengan apo yang diprediksikan oleh KH. Damanhuri Duwe Pote sewaktu KH. Muhammad Fathullah nyantri di duwe’ Pote belio pa nah di panggil oleh KH. Demanhuri dan berkata “Moham,nad, ampon panjennengan lepoleman i ngiring debunab kya (KH-Fathulleh insya Allah bingkeng areti edo era sekitaran ko’disch bekk fordul da sempiyon kabbi, manabih sampeyan sabber.” (artin): Muhammad, sudah cukup sampiyan menuntut ilmu, pulanglah ke Glagas dan turuti perintah ayahanda sampiyan. Insya Allah suatu saat nanti penduduk disekitar kawasan disana akan mengikuti sampiyan, kalau sampiyan sabar.) itulah yang dikatakan KH. Damanhuri. Setelah beliau mengetahui akan kelebihan tanah persawahan itu beliau bertanya kepada Pak Satoma (salah satu tetangga beliau) “Pak Satoma, sabe temor jelen ka’disah geduen-nah paserah?” (artinya: Pak Satoma, sawah yang berada disebelah timur jalan ke sungai itu milik šlapa ?), kemudian pak Satoma menjawab “Geduen- nah pak Soleh Kiaeh….. Nyamanah sabe Lanbulan.” (artinya: Punya pak Soleh Kial dan namanya Sawah Lanbulan). Setelah mendengar keterangan pak satoma tadi didalam batin beliau berbisik “Namanya sawah Lanbulan, berarti sangat cocok dengan apa yang aku alami didalam mimpi” akhirnya setelah mendapatkan keterangan lalu beliau menyampaikan gagasan dan keinginan ke mertua beliau KH. Nawawi dan Al-Hamdulillah KH. Nawawi beliau merespon positif keinginan menantunya dan pada akhirnya KH. Nawawi bermusyawarah dengan pak Satoma dan pak Soleh mengenai sawah Lanbulan tersebut, hingga akhirnya mencapai kesepakatan bahwa sawah Lanbulan yang dimiliki pak Soleh akan ditukar dengan sawahnya KH. Nawawi yang berada di Tenggenteng. Betapa bahagianya KH. Muhammad Fathullah setelah mendengar kesepakatan itu. Tibalah hari yang bersejarah, tepatnya pada hari jum’at legi tanggal 08 Sya’ban 1371 H./02 Mei 1952 M. Beliau pindah dari Tenggenteng ke Lanbulan bersama istri dan mertuanya dan kelak nama Lanbulan akan dikenal menjadi nama pesantren yang cukup besar dimana pendiri pertama sekaligus merangkap pengasuh adalah KH. Muhammad bin Fathullah yang berasal dari Glagas Mambuluh Timur Tambelangan Sampang.
Tanggal 08 Sya’ban 1371 H/02 Mei 1952 м, merupakan moment yang sangat berarti dan bersejarah bagi perjalanan Pondok Pesantren al-Mubarok Lanbulan, karena pada hari itu batu peletakan pertama di lakukan di persawahan Lanbulan untuk membangun dalem sekaligus pesantren yang akan di asuh oleh KH. Muhammad bin Fathullah, maka pada saat itu dimulailah pemindahan kediaman beliau yang ada di Tenggenteng ke Lanbulan serta merenovasi kerusakan yang ada. Pada saat pemindahan kediaman beliau masyarakat setempat dari enam kampung datang demi membantu pemindahan tersebut

